Rabu, 08 Februari 2012

KUMPULAN HIKAYAH


KUMPULAN HIKAYAH
1.    Hikayat Hang Tuah
Hikayat Hang Tuah adalah sebuah karya sastra Melayu yang termasyhur dan mengisahkan Hang Tuah. Dalam zaman kemakmuran Kesultanan Malaka, adalah Hang Tuah, seorang laksamana yang amat termasyhur. Ia berasal dari kalangan rendah, dan dilahirkan dalam sebuah gubug reyot. Tetapi karena keberaniannya, ia amat dikasihi dan akhirnya pangkatnya semakin naik. Maka jadilah ia seorang duta dan mewakili negeranya dalam segala hal.
Hang Tuah memiliki beberapa sahabat karib: Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Ada yang berpendapat bahwa kedua tokoh terakhir ini sebenarnya hanya satu orang yang sama saja. Hikayat ini berputar pada kesetiaan Hang Tuah pada Seri Sultan. Bahkan ketika ia dikhianati dan dibuang, teman karibnya, Hang Jebat yang memberontak membelanya akhirnya malah dibunuhnya. Hal ini sampai sekarang terutama di kalangan Bangsa Melayu masih kontroversial. Siapakah yang benar: Hang Tuah atau Hang Jebat?
Selain itu setting cerita ini adalah di Malaka sekitar abad ke-14 Masehi. Sebab banyak diceritakan dalam hikayat ini perseteruan antara Malaka dan Majapahit. Banyak kritik ditujukan kepada orang Jawa dalam hikayat ini. Meskipun begitu senjata paling ampuh, yaitu sebilah keris, berasal dari Majapahit. Malah Hang Tuah lima bersaudara dikatakan menuntut banyak ilmu kebatinan dari petapa Jawa.
2.    Hikayat Abdullah
Hikayat Abdullah bisa dikatakan merupakan sebuah otobiografi. Hal ini membuat hikayat ini istimewa dalam khazanah Sastra Melayu. Karya sastra ini ditulis pada pertengahan abad ke-19. Abdullah yang bernama lengkap Abdullah bin Abdulkadir Munsyi adalah seseorang dari keluarga terpelajar. Ia merupakan seorang keturunan Arab, dari Yaman. Leluhurnya adalah guru agama dan guru bahasa Arab yang menetap di India Selatan, lalu beristrikan seorang Tamil. Lalu mereka pindah ke Malaka.
Abdullah banyak menceritakan hal-hal yang menarik dari paruh pertama abad ke-19. Misalkan mengenai kota Malaka dan Singapura, beberapa tokoh seperti John Stamford Raffles, Lord Minto, Farquhar dan Timmerman Thijssen. Selain itu ia banyak sekali menceritakan tentang kehidupan sehari-hari bangsa Melayu kala itu. Pengarang ini juga dikenal karena suka menulis karya sastra didaktis yang penuh dengan nasihat-nasihat.
3.    Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Bayan Budiman adalah hikayat Melayu yang menyadur kisah berbingkai dari India, Sukasaptati. Penulis hikayat ini sendiri mengambil adaptasi yang berasal dari Persia. Menurut teks, terjemahan dari Persia dilakukan oleh Kadi Hassan pada 773 H (1371 M). Hikayat ini bercerita tentang seorang burung bayan yang mencoba mencegah seorang perempuan muda yang hendak menyeleweng, dengan cara mengisahkan cerita-cerita menarik.
4.    Hikayat Iskandar Zulkarnain
Hikayat Iskandar Zulkarnain adalah kisah petualangan raja Makedonia Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) yang ditulis dalam bahasa Melayu. Menurut Law Yock Fang, hikayat ini berawal dari kisah-kisah yang disadur dari buku pengarang Yunani Mesir samaran Pseudo Callisthenes, yang bertarikh abad kedua dan ketiga sebelum Masehi. Dalam hikayat ini, diceritakan Iskandar mengunjungi berbagai negeri didampingi oleh Nabi Khidhir. Salinan manuskrip terawal bertarikh adalah salinan Cod.Or.1696, Perpustakaan Universiti Leiden.
5.    Hikayat Kalila dan Daminah
Hikayat Kalila dan Daminah adalah sebuah hikayat dalam bahasa Melayu yang merupakan sebuah terjemahan dari bahasa Arab. Tetapi karya sastra ini bukanlah sebuah karangan asli dalam bahasa Arab pula, melainkan sebuah terjemahan dari bahasa Persia Kuna. Karangan dalam bahasa Persia Kuna ini pada gilirannya merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta. Dalam bahasa Sansekerta karya sastra ini disebut Panca Tantra.
Hikayat ini merupakan sebuah cerita bingkai dan kisah-kisah yang diceritakan dalam hikayat ini banyak menampilkan hewan-hewan dan binatang sebagai tokoh cerita. Seorang filsuf India yang hidup diabad 3 Masehi. Menulis buku Hikayat Kalilah & Dimmah untuk Dabsyalim, Raja India. Karyanya mengandung kisah-kisah alegoris atau kiasan dalam bahasa binatang (fabel) yang dimaksudkan sebagai kritik dan nasihat kepada seorang raja yang lalim. Melalui fabel-fabelnya, Baidaba bermaksud meluruskan berbagai penyimpangan yang dilakukan sang Raja dalam sgenap sepak-terjang politik kekuasaan dan perjalanan hidupnya. Karena kandungan kearifannya sangat berbobot dan dituturkan dalam bahasa yang mudah di cerna, sehingga karyanya mampu bertahan hingga sekarang.
Dalam hikayat ini disebut bahwa pengarangnya bernama Baidapa. Konon nama ini merupakan sebuah bentuk yang sudah rusak dari nama Sansekerta Widyapati yang bisa diartikan sebagai “Raja Ilmu Pengetahuan”. Sedangkan judul hikayat Kalila dan Daminah konon merupakan sebuah bentuk rusak dari Karna dan Damanataka.(**)
Naskah Kelileh va Demneh yang disalin pada 1429, dari Herat, melukiskan seekor serigala yang mencoba menyesatkan singa.
6.    Hikayah Malim Demam
Isinya menceritakan percintaan anak Raja Bandar Muar bernama Malim Demam dengan seorang putri dari kayangan bernama Putri Bungsu.
Dengan pertolongan Nenek Kebayan Malim Demam dapat berkenalan dengan Putri Bungsu, kemudian dinikahinya. Setelah mempunyai seorang anak bernama Malim Dewana, Malim Demam tidak lagi memperhatikan anak dan istrinya karena setiap hari waktunya dihabiskan untuk mengadu ayam dan berjudi. Hal itu sangat memilukan hati Putri Bungsu. Karena itu ketika Malim Demam tidak ada dirumah, dengan memakai baju terbangnya yang selama ini disembunyikan oleh malim demam, sambil mendukung anaknya, terbanglah Putri bungsu kembali ke kayangan. Setelah mengetahui, Malim Demam dengan segera menyusul kekayangan setelah mendapat pinjaman baju terbang dari Putri Terus Mata. Setelah berjumpa ayah Putri Bungsupun mengadakan pesta untuk meresmikan perkawinan mereka. Setelah selesai berpesta Malim Demam bersama istrinyapun kembalilah Kebandar Muar.
7.    Hikayat anggiun cik tunggal
Isinya menceritaka pengalaman Anggun Cik Tunggal dalam mencari neneknya yang telah menjadi tawanan Raja Badurai Putih. Sepeninggalnya istri Anggun Cik Tunggal yang bernama Putri Gondan Gandariah menikah lagi dengan Nahkoda Bahar yang kemudian ternyata seorang penipu. Baru saja ijab kakabul diucapkan, maka Putri Gondan Gandariahpun berubah menjadi Unka (sejenis kera yang panjang tangannya dan tidak berekor). Nakhoda Bahar dibunuhnya.
Setelah Anggun Cik Tunggal kembali dan mengetahui perihal istrinya itu maka segeralah dicarinya, kemudian diobatinya sehingga sembuh. Tetapi tidak lama kemudian kedua suami istri itu akhirnya menjadi unka kembali karena kekuatan ilmu gaib anak Putri Raja Sianggararai bernama Kaca Bertuang yang menjadi istri kedua Anggun Cik Tunggal.
8.    Hikayat si miskin atau hikayat marakarma
Isinya menceritakan seorang Dewa yang karena terkutuk diturunkan ke dunia menjadi manusia yang karena melaratnya disebut Si Miskin. Dengan istrinya mempunyai seorang anak laki-laki bernama Marakarma, yang berarti anak yang dalam kesengsaraan. Mereka itu tinggal di dalam hutan yang terletak diwilayah Negri Entah Berentah, yang diperintah oleh Maharaja Indera Dewa.
Pada suatu hari tatkala si Miskin meriba Marakarma, berkatalah ia kepada anaknya itu demikian: “ jika kamu benar-benar anak seorang dewa, kembalikanlah kemegahan orang tuamu dengan menjadikan hutan ini menjadi kerajaan besar”. Si Miskin kemudian menamai dirinya, istrinya dan kerajaannya berturut-turut dengan Maha Raja Indera Angkasa, Ratna Dewi dan Puspa Sari. selanjutnya di kerajaan Puspa Sari itu mereka dikaruniai seorang anak bernama Nila Kusuma.
Keadaan Kerajaan Puspa Sari yang makin masyhur itu menyebakan iri hati Maha Raja Indera Dewa. Karena itu ketika mendengar bahwa Maharaja Indera Angkasa akan memanggil para ahli nujum dari negri entah berentah untuk menujungkan kedua anaknya itu, maka Maharaja Indera Dewa pun menghasut para ahli nujum itu agar mereka itu menujumkan kedua anak itu tidak baik dibiarkan tinggal dalam Kerajaan Puspa Sari karena amat banyak celakanya.
Akibat penujuman itu, Maha Raja Indera Angkasa membuang kedua anaknya itu dengan dibekali tujuh buah ketupat, sebentuk cincin dan sebuah kemala. Tiga hari setelah peristiwa pembuangan kedua anak itu, tiba-tiba Kerajaan Puspa Sari berubah kembali menjadi hutan seperti semula. Setelah kejadian itu barulah Maha Raja Indera Angkasa insaf bahwa ia telah diperdayakan orang. Kedua pasangan suami istri itu akhirnya pergi mencari kedua anaknya, tetapi sia-sia.
Pada suatu hari Marakarma ditangkap orang karena ketika ia hendak minta api untuk membakar burung hasi tangkapannya untuk makanan adiknya ia disangka pencuri oleh mereka. Ia dibuang ke laut dan setelah dibawa gelombang terdampar pada sebuah pulau yang dihuni oleh sepasang raksasa. Ia ditawan oleh raksasa itu dan dimasukkan kedalam tahanan bersama seorang tahanan puteri bernama Cahaya Khairani, anak Maharaja Malay Kisna dari Nergi Mercu Indera. Secara diam-diam keduanya menjadi suami istri dan berhasil meloloskan diri meninggalkan pulau itu setelah ditolong oleh nahkoda sebuah kapal. Dalam kapal itu nahkoda kapal jatuh cinta pada Cahaya Khairani. Agar dapat memperistrinya, maka Marakarma dibuang kedalam laut, yang akhirnya ditelan oleh seekor ikan Nun dan terus mengikuti arah kapal yang menuju Negeri Palinggam Cahaya, karena nahkoda kapal itu bersahabat dengan Maha Raja Puspa Indera.
Sementara itu ikan nun yang telah menelan Marakarma mendamparkan diri kepantai dekat tepian Nenek Kebayan. Setelah nenek kebayan diberi tahu oleh seekor burung rajawali tentang adanya Marakarma dalam perut ikan nun itu maka perhilah Nenek Kebayan ketempat ikan nun yang terdampar itu, dan setelah perut ikan itu ditorehnya dengan daun padi, keluarlah Marakarma dengan selamat dan setelah itu ikan nun itupun kembalilah kedalam laut.
Marakarma dipelihara baik-baik oleh Nenek Kebayan. Disitu ia membantu Nenek Kebayan membuat karangan bunga yang hendak dijual ke kapal Cahaya Khairani. Disamping gubahan bunga yang bayak itu, marakarma membuat pula sebuah gubahan bunga yang khusus dijual kepada Cahaya Khairani. Pada gubahan bunga itu diletakkan sepucuk surat dan sebentuk cincinnya. Membaca surat dan melihat cincin itu menagislah Cahaya Khairani dengan sangatnya.
Pada suatu hari Permaisuri Raja Puspa Indera, yakni manduratna, mengundang Cahaya Khairani untuk datang bermain-main ke istananya. Di sitana itu  Cahaya Khairani tiba-tiba menangis tersedu-sedu bertemu dengan menantu Maharaja Puspa Indera yang bernama Mayang Mengurai. Ketika ditanya mengapa ia menangis maka dikatakannya bahwa wajah Putri Mayang Mengurai sama benar dengan wajah suaminya. Mendengar itu puteri mayang mengurai berkeyakinan bahwa kakaknya, yakni Marakarma, tentu masih hidup. Mayang Mengurai sendiri sebenarnya tidak lainialah Nila Kusuma yang dahulu ditinggalkan seorang diri dalam hutan oleh Marakarma. Dihutan itu Nila Kusuma ditemukan oleh Mangindera Sari, Putra Mahkota Maharaja Puspa Indera yang kebetulan sedang berburukehutan itu, iapun dibawa pulang keistana ioleh Mangindera Sari. Di istana ia dipelihara baik-baik oleh Maharaja Puspa Indera dan diberi nama  Mayang Mengurai, yang setelahg remaja dinikahkan dengan Mangindera Sari.
Untuk mencari Marakarma maka sekalian orang laiki-laki dalam Negri Palinggam Cahaya dikumpulkan oleh Karena tak ada, maka bagindapun menyuruh memanggil Nenek Kebayan. Pada waktu Nenek Kebayan pergi keistana  itulah , Marakarmapun mengeluarkan Kemala Hikmat pemberian seorang Bota di tengah padang sulara mandi dulu kepadanya. Ia minta seekor kuda semberani dan pakaian yang indah-indah serta 40 orangf muda-muda sebagai pengiringnya. Setelah siap berangkatlah ia keistana Puspa Indera dan disitu ia dapat bertemu dengan istrinya (Cahaya Khayani) dan adiknya (Nila Kusuma). Ahirnya, nahkoda kapal dan orang-orang kampung yang dahulu pernah membuang Marakarma kelaut semuanya dibunuh tatkala diistana diadakan suatu pesta besar.  
Setelah kejadian itu, Marakarma pun mencari ayah bundanya yang telah jatuh miskin itu, setelah bertemu, dikembalikannyalah Negeri Puspa Sari seperti pada kebesarannya dahulu. Dalam perjalanan pulang di dataran Tinjau Maya Marakarma bertemu dan berperang dengan Maha Raja Indera Dewa dari Negeri Entah Berentah, yang dahulu pernah menjerumuskan orang tua Marakarma dengan jalan menghasut para ahli nujum. Dahulu, di dekat Telaga Indera Semandra, Marakarma banyak memperoleh sahabat yakni tujuh orang raja yang kini menolongnya untuk memperoleh kemenangan. Dalam peperangan itu Maha Raja Indera Dewa tewas, putrinya yang bernama Nila Cahaya dinikahkan dengan Raja Bujangga Indera, saudara Cahaya Khairani, yang kemudian naik tahta di Negeri Entah Berentah. Setelah itu Marakarma mengunjungi mertuanya, yakni Maharaja Malaikisna di Negri Mercu Indera dan disana ia diangkat menjadi raja mengganti mertuanya. Sedangkan Mayang Mengurai mengikuti suaminya Mangindera Sari yang telah diangkat menjadi Raja menggantikan ayahnya di Negeri Malinggam Cahaya.
9.    Hikayat Amir Hamzah
Hikayat ini menceritakan keperwiraan pahlawan Amir Hamzah yakni paman Nabi Muhammad SAW, yang terkenal keberanian dan jasanya dalam masa penyiaran agama Islam di Mekkah dan Madinah. Amir Hamzah gugur dalam peperangan melawan orang-orang kafir Mekkah di Kaki Gunung Uhud dekat Kota Madinah.
 Hikayat Amir Hamzah berasal dari sastra persi, kemudian di salin kedalam Bahasa Arab dan Bahasa Urdu (India).
Hikayat Amir Hamzah yang ada dalam sastra Indonesia adalah salinan dari hikayat Amir Hamzah yang berbahasa Urdu.
10.    Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah
Di dalam tarikh Islam kita telah mengetahui bahwa Sayyidina Ali, yakni Kholifah yang keempat, selain tergolong salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, juga menjadi menantu beliau. Ia menikah dengan Fatimah, anak putrid nabi dengan Siti Khodijah.
Dengan Fatimah, Sayyidina Ali mempunyai dua orang anak bernama Hasan dan Husain, sedangkan dengan istri kedua Sayyidina Ali mempunyai seorang anak laki-laki bernama Mohammad Ali Hanafiah.
Isi Hikayat Mohammad Ali Hanafiyah menceritakan keperwiraan Mohammad Ali Hanafiyah dengan menghadapi musuh kaum islam.
Jasa Mohammad Ali Hanafiyah yang pertama ialah mempertahankan dan membela kaumnya yang menjadi pengikut ayahnya, yang terkenal dengan nama kaum Syiah. Kaum Syiah adalah kaum yang mementingkan agama yang dengan gigih menentang kaum Mu’awiyah (umayaden). Mu’awiyah, anak Abu Sofyan, adalah seorang bangsawan Mekkah yang lebih mementingkan keduniawiyan dari pada keakhhiratan.
Waktu Sayyidina Ali menjadi Khalifah, pengikut Mu’awiyah yang terkenal dengan Bani Umayyah, memberontak dan akhirnya dapat mendirikan pemerintahan di Damaskus. (Damsyik), sedangkan mekah tetap dikuasai oleh kaum Syi’ah.
Sayyidina Ali tidak lama menjadi Khalifah kerena ia mati terbunuh, kemudian diganti oleh anaknya tertua yang bernama Hasan. Tetapi Hasan pun tidak lama memerintah karena meninggal diracun oleh musuh, kemudian diganti oleh Husain. Dalam peperangan di padang Karbela, Husain mati terpenggal kepalanya oleh tentara Yasid, Anak Mu’awiyah. Sepeninggal Husai Muhammad Ali Hanafiyah tampil kemedan perang dengan gagah beraninya menghancurkan tentara Yasid.
11.    Hikayah Abu Nawas
Hikayat ini berasal dari Baghdad, isinya menceritakan kecerdikan seorang anak muda bernama Abu nawas, anak seorang Kadi dalam zaaman Raja Harun Al-rasyid. Raja brusaha hendak menjadikan Abu nawas menjabat Kadi sebagai pengganti ayahnya yang telah berj=henti, tetapi Abu Nawas dalam hatinya tidak menyukai jabatan itu. Untuk menggagalkan maksud Raja itu, ada saja usahanya, antara lain berlaku seperti orang yang kurang akal (gila). Akibatnya mengurungkan niatnya itu.  
12.    Hikayat Pandawa Jaya
adalah cerita yang mengisahkan epos atau wiracarita Mahabharata yang telah disadur ke dalam bahasa Melayu klasik. Penyadur Hikayat Pandawa Jaya tidak menerjemahkan atau menyadurkannya dari bahasa Sanskerta, tetapi dari bahasa Jawa. Diperkirakan salah satu sumbernya adalah kakawin Bharatayuddha. Hal ini juga mendukung judul yang ditekankan adalah kisah para Pandawa dan perang Bharatayuddha.
Karya sastra ini kadang-kadang juga disebut sebagai Hikayat Pandawa Lima. Sebuah saduran lain dalam bahasa Melayu dari kisah epos India adalah Hikayat Seri Rama.
13.    Hikayat Siti Mariah
Buku ini menceritakan kondisi Indonesia Pra kebangkitan nasional 1830-1890, menceritakan tentang romansa dan pertikaian yang diceritakan dalam pabrik gula dan tebu yang selalu menjadi objek cerita dalam setiap kisah-kisah pra kebangkitan nasional. Menggambarkan kejamnya kolonialisme dan kejamnya jongos pribumi yang memakan daging rakyat sendiri. Namun tidak serta merta juga menceritakan semua Belanda totok itu jahat, ada juga diceritakan  dengan perilaku baik seperti halnya Multatuli yang mengkritik Pemerintahan Hindia Belanda dengan sistem tanam paksanya untuk menggunakan politik balas budi.
Kisah Siti Mariah yang juga bernama Urip, Mardi, Jongos Salimin, Babu Salimah, Nyonya Janda Esobier menjadi fokus utama cerita yang berlika-liku dengan sebagian serba kebetulan adanya dibuat oleh Haji Mukti yang dalam buku ini juga menjadi salah satu tokoh. Novel ini juga dieditori oleh Pramoedya Ananta Toer menceritakan banyak kisah pergundikan bagaimana para Belanda menjadikan mereka Nyai hanya untuk dipiara. Bagaimana mereka harus lebih patuh pada Belanda totok.
Naskah asli hikayat ini yang bagian sastra pra-Indonesia adanya di Leiden, Belanda dikumpulkan oleh Pram kemudian disatukan, pernah diterbitkan dalam cerita bersambung dalam salah satu harian Medan Prijaji 1910-1912 kemudian diterbitkan ulang dalam Lentera. Namun sayang ada beberapa bagian hilang, namun tidak memutus alur pemikiran kita terhadap jalan ceritanya.
Kisah ini berawal dari Wongsodorno menjual Urip anak tirinya bocah 11 bulan kepada Joyopranoto dengan mengatakan bahwa ibunya telah meninggal. Urip akhirnya besar bernama Siti Mariah menjadi gadis cantik yang indo, ternyata anak dari Bupati Kedu yang Belanda totok menghamili Sarinem seorang Nyainya. Akhirnya dipiara (dijadikan gundik) oleh Kontrolir Pabrik Gula Henri Dam melahirkan Sinyo Ari dengan penuh lika-liku yang akhirnya menikahi Belanda Totok Lucie, padahal menyayangi Siti Mariah dan Sinyo Ari yang dijampi oleh Pemilik Pabrik Gula tersebut yaitu Nyonya Van Holstein. Sampai mereka dipisahkan, berganti nama, dan menjalani hidup sebatang kara. Tergambar jelas dalam hikayat ini.
Masing-masing tokoh saling berkaitan sama lain, ada yang bersaudara dekat namun tidak satu ibu, dan berwajah indo demikian salah satu penerapan pergundikan di zaman cultuursteelsel (tanam paksa). Tanggal-tanggal penting dalam cerita ini tercacat dengan jelas oleh penulisnya sehingga dengan mudah mengetahui periode terjadinya kisah dalam hikayat ini yang bisa jadi merupakan penggalan kisah nyata dari penulis yang menjadi saudara tidak seibu dari Siti Mariah, tokoh sentralnya.
14.    Hikayat Seri Rama
Merupakan salah satu cerita adaptasi dalam bahasa Melayu dari epik Ramayana yang tersebar luas mulai dari India sampai ke seluruh Asia Tenggara, bersama dengan Hikayat Maharaja Wana. Garis besar cerita masih sama dengan cerita aslinya yang merupakan karya sastra berbahasa Sanskerta, tetapi ada perubahan dalam penyebutan nama dan tempat menyesuaikan dengan lidah Melayu. Ramayana versi Melayu telah dikembangkan oleh para sastrawan Melayu, sehingga mempunyai perbedaan dengan versi aslinya, contohnya kisah Laksmana(Lakshman) adik dari Seri Rama yang diceritakan mempunyai peran yang lebih besar daripada kakaknya, hal ini mirip dengan cerita Ramayana versi Laos yaitu kisah Phra Lak Phra Lam (Laksamasa dan Rama) yang juga memberikan perhatian lebih besar kepada Laksamana daripada Rama.
Hikayat Seri Rama yang aslinya ditulis dalam huruf Jawi gundul, banyak menunjukkan variasi ejaan nama karena juru salin tidak mengenali nama-nama tokoh ini secara benar lagi. Bebera
15.    Hikayat Negeri Johor
berkisah tentang sejarah raja-raja dari suku Bugis di Riau dan Selangor. Meskipun mengacu pada Johor, judul ini sebenarnya tidak tepat. Tokoh utama dalam hikayat ini adalah Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Riau. Selain peperangan antara Raja Haji dan Belanda, dikisahkan juga perjalanan dan hubungannya dengan raja-raja Melayu lain.
Bagian awal Hikayat Negeri Johor memusatkan perhatian pada Riau, dengan sejarah Johor sebagai pengantar. Bagian akhir memusatkan perhatian pada Selangor, yang masih kuat dipengaruhi oleh raja-raja keturunan Bugis ketika Riau sudah dikalahkan Belanda.
16.    Hikayat Raja Jumjumah
Hikayat ini menceritakan Isa (Yesus) yang sedang berjalan di negeri Syam (Suriah). Maka beliaupun melihat sebuah tengkorak tergeletak di pinggir jalan. Lalu ditanyalah tengkorak itu dahulu kala apa jabatannya. Kemudian tengkorak itu berbicara dan berkata bahwa ia dahulu adalah seorang raja ternama bernama Raja Jumjumah. Namun beliau pernah berbuat salah sehingga sampai mati dan tengkorak terbuang dengan sia-sia. Kemudian oleh Isa tengkorak ini mendapat kesempatan kedua dan dihidupkan kembali.
17.    Siti Hasanah
Isinya menceritakan seorang raja yang lalim karena telah dihianati oleh permaisurinya yang durjana. Sejak itu Raja berjanji dalam hatinya akan membunuh setiap perempuan yang telah diperisterinya, setiap melam seorang. Untunglah hal itu tidak sampai berlarut-larut, karena kehadiran seorang wanita yang cerdik dan bijaksana dapat melembutkan hati raja yang lalim itu.
18.    Hikayat Sang Bima
adalah sebuah hikayat dalam Bahasa Melayu yang mengisahkan petualangan lima bersaudara Pandawa di Tanah Jawa. Menurut kalimat-kalimat pembukaan hikayat ini pengarangnya seorang dalang bernama Wisamarta, dalam masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, raja Bima yang memerintah 1696-1731. Dengan demikian hikayat ini diperkirakan dikarang di Bima pada awal abad ke-18.
Sebagian naskah hikayat ini ditemukan dalam dokumen yang berasal dari Makassar. Karena itu ada kemungkinan juga Hikayat Sang Bima dikarang di sana.
19.    Hikayat Banjar
merupakan sejarah Kesultanan Banjarmasin, Indonesia. Teks ini yang juga dikenali sebagai Sejarah Lambung Mangkurat, mengandungi sejarah raja-raja Banjar di Kalimantan Selatan dan raja-raja Kotawaringin di Kalimantan Tengah, karena itulah sering dinamakan Hikayat Banjar dan Kotawaringin.
Bagian akhir teks bertarikh dari 1663 atau sesudahnya; bagian awalnya adalah lebih lama. Teks ini sepanjang 4,787 baris (120 halaman). Edisi teks bersama penjelasan lanjut dari segi konteks sejarah budaya dan kesusteraan diterbitkan oleh ahli filologi Belanda Hans Ras pada 1968.[1]
Dalam Hikayat Banjar, sering digunakan manira untuk kata ganti orang pertama dan pakanira (pakenira) untuk kata ganti orang kedua yang merupakan Bahasa Bagongan

20.    Hikayat Raden Kian Santang

Kian santang adalah Tokoh tasawuf dari tanah pasundan yang ceritanya melogenda khususnya di hati masarakat pasundan dan kaum tasawuf di tanah air pada umumnya.
Tokoh kian-santang ini pertama kali berhembus di kisahkan oleh raden CAKRABUANA atau pangeran walangsungsang ketika menyebarkan islam di tanah cirbon dan pasundan.pangeran cakrabuana adalah anak dari prabu sili-wangi atau jaya dewata raja pajajaran, yang di lahirkan dari permisuri yang bernama nyai subang larang ,subang-larang sendiri anak dari mubaliq kondang yaitu syeh maulana-hasanudin atau terkenal dengan syeh kuro krawang
Mulanya yaitu ,Ketika raden walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran ,yang di sbeapkan oleh keberbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama ”shangyang” , diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau ”sunan gunung jti”).dengan membuka perkampungan di pesisir utara yang menjadi cikal-bakal kerajaan cirebon atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah ”cirebon”
Logenda kian-santang sendiri diambil dari referensi kisah nyata, dari tanah sunda tempo dulu yang ceritanya pada waktu itu tersimpan rapi di perpustakaan kerajaan pajajaran. Karena pajajaran adalah yang menyatukan kerajaan ”galuh” dan kerajaan ”pakuan”
,yang dimana kerajaan galuh adalah pecahan dari kerajaan ”sundapura” tempo dulu , dan sunda pura sendiri adalah pecahan kerajaan taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara yang di pecah menjadi dua yaitu tarumanegara dan sundapura .yang secara historic pajajaran masih menjadi pewaris dari taruma negara
Di mana di kisahkan pada waktu itu yaitu abad ke 4m atau tahun 450m pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya ”di tataran suda dan sekitarnya ,tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya .hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaan tarumanegara. namun berkat gagak lumayung ,pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang.
Semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau ”penakluk pasukan tang” Di ceritakan sang kiansantang ini karena saking saktinya hingga dia rindu kepingin melihat darahnya sendiri Sampailah di suatu ketika sa’at dia mendapat wangsit di tapabratanya bahwah di tanah arab terdapat orang sakti mandraguna
Konon : dengan ajian napak sancangnya raden kian santang mampu mengarungi lautan dengan berkuda saja. ”Di mana dalam ceritanya ketika sampai di pesisir beliau bertemu seorang kakek ,dan padanya dia minta untuk di tunjukan di mana orang sakti yang kian santang maksud tersebut”.
 Dan dengan senang hati si-kakek tersebut menyanggupinya dan sementara dia mengajak beliau ”raden kiansantang” untuk mampir dulu ke rumahnya.
Al-kisah setelah sampai di rumahnya tongkat dari sang kakek tersebut tertinggal di pesisir dan minta raden kian santang untuk mengambilkanya ,konon dikisahkan si-kian santang tak mampu mencabutnya sampai tanganya berdarah-darah ,disitulah kian santang baru sadar kalau kakek itu adalah orang yang di carinya.
Dan akhirnya dengan membaca kalimah syahadat yang di ajarkan sang kakek tadi ”yang akhirnya menjadi guru spiritualnya” tongkat tersebut dapat di cabut .dan siapakah kakek tersebut ?,ya dia adalah taklain dan tak bukan syaidina ali r.a menantu dari baginda nabi muhamad s.a.w.
Cerita tersebut membumi sekali cerita tersebut di kisahkan oleh raden walang sungsang atau pangeran cakrabuana sebagai media dakwah dan penyebaran islam di bumi carbon Sehingga sampai sekarang banyak kalangan yang menyangka raden walangsungsang adalah kian santang bahkan ada yang menafikan kian santang adalah adik cakrabuana dan kakak dari rara santang.
Raden walangsungsang mengambil cerita ini dari perpustakaan kerajaan pajajaran dengan pertimbangan karena kisah itu mirip dengan kisahnya yang di mana kian santang setelah pulang dari arab dia ingin meng-islamkan ayahnya prabu purnawarman namun di tolaknya dan kian santang memilih meninggalkan istana dan tahtanya di berikan adiknya yaitu darmayawarman begitu pula raden walang sungsang yang pernah merantau ke arab dan meningkahkan adiknya rara santang dengan saudara anak sepupu darinya pernikahan berlangsum di mesir -yang dari perkawinan ini lahirlah raden syarif hidayatullah atau sunan gunung jati. Keinginan Walangsungsang untuk meng-islamkan prabu siliwangi di tolak mentah-mentah dan ayahnya tidak ingin bertarung dengan anaknya maka dia memilih mensucikan diri atau bertapa ”konon beliau menjelma macan putih”
Pengambilan kisah seperti ini pernah pula terjadi di kerajaan panjalu atau kediri,
suaktu panjalu menaklukkan jenggala yang dimana dulunya jenggala dan panjalu adalah kerajaan satu yaitu kahuripan yang di bagi dua oleh prabu airlangga karena kedua anaknya menginginkan tahta semuanya :jenggala dan panjalu .
Pada waktu panjalu menaklukkan jenggala rajanya adalah prabu jayabaya .atas permintaanya di suruhlah empu panuluh untuk menjiplak kitap maha barata namun di ferifikasi gaya jawa Sebagai perlambang atas kemenangan perang saudara panjalu atas jenggala. Juga kisah serupa pernah hadir ketika gerakan penyebar islam WALI SONGO menurt banyak kalangan membuat cerita al-halaq fersi indonesia yaitu syeh siti jenar
Yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan dan polemik panjang oleh para ahli sejarah di tanah air.
21.    Hikayat Bayan Budiman
Sebermula ada saudagar di negara Ajam.Khojan Mubarok namanya,terlalu amat kaya,akan tetapi ia tiada beranak.tak seberapa lama setelah ia berdoa kepada Tuhan,maka saudagar Mubarok pun beranaklah istrinya seorang anak laki-laki yang di beri nama Khojan Maimun.
Setelah umurnya Khojkan maimun lima tahun,maka di serahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru sehingga sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun,ia di pinangkan dengan anak saudagar yang kaya,amat elok parasnya,namanya Bibi Zainab.
Hatta beberapa lamanya khojan Maimun beristri itu,ia membeli seekor burung bayan jantan.Maka beberapa di antara itu ia juga membeli seekor tiung betina,lalu di bawanya ke rumah dan di taruhnya hampir sangkaran bayan juga .
Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut,lalu minta izinlah dia kepada istrinya.Sebelum dia pergi ,berpesanlah dia pada istrinya itu,jika ada barang suatu pekerjaan,mufakatlah dengan dua ekor unggas itu,hubaya-hubaya jangan tiada ,karena fitnah di dunia amat besar lagi tajam dari pada senjata.
Hatta beberapa lama di tinggal suaminya,ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok.Berkencanlah mereka unyuk bertemu melalui seorang perempuan tua.maka pada suatu malam,pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu,maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT.maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.
Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura2 tidur.maka bayan pun berpura2 terkejut dan mendengar kehendak hati Bibi Zainab perg mendapatkan anak raja.maka bayan pun berpikir bila ia menjawab seperti tiung maka ia juga akan binasa.Setelah ia sudah berpikir demikian itu,mak ujarnya,"Aduhai Siti yang baik paras,pergilah dengan segeranya mendapatkan anak raja itu.Apapun hamba ini haraplah tuan,jikalau jahat sekalipun pekerjaan tuan,Insya Allah di atas kepala hambalah menanggungnya.Baiklah tuan pergi,karena sudah di nanti anak raja itu.Apatah di cara oleh segala manusia di dunia ini selain martabat,kesabaran,dan kekayaan?Adapun akan hamba,tuan ini adalah seperti hikayat seekor unggas bayan yang dicabut bulunya oleh tuannya seorang istri saudagar.
Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut.Maka Bayanpun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu. Hatta setiap malam,Bibi Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu,dan setiap berpamitan dengan bayan ,maka di berilah ia cerita2 hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita,hingga akhirny lah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatanya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.
22.    Hikayat Caya Langkara
Hikayat Caya Langkara mengisahkan seorang wira bernama Caya Langkara yang berusaha untuk mendapatkan bunga kuma-kuma putih bagi mengubati penyakit ayahandanya. Dalam usahanya, Caya Langkara telah berhadapan dengan perbagai-bagai rintangan dan halangan untuk mendapatkan bunga tersebut. Pada tingkat inilah dibuktikan keunggulan Caya Langkara sebagai wira yang berjaya mengatasi rintangan dan halangan tersebut.
23.    Hikayat Merong Mahawangsa
Hikayat Merong Mahawangsa atau Sejarah Kedah adalah hikayat yang menceritakan susur galur Merong Mahawangsa dan pengasas Kedah, sebuah negeri di Malaysia. Sungguhpun terdapat beberapa fakta sejarah, ia turut mengandungi dakwaan yang mengkagumkan. Era yang dirangkumi oleh teks ini bermula dari pembukaan negeri Kedah oleh Merong Mahawangsa, yang didakwa sebagai keturunan Iskandar Agung dari Macedonia sehingga ketibaan Islam pada abad ke-12 M.
Merong Mahawangsa merupakan penganut Hindu dan terdapat sembilan pemerintah Hindu sebelum Phra Ong Mahawangsa memeluk Islam pada 1136 dan mengambil nama Sultan Mudzafar Shah. Hikayat ini turut menggambarkan serangan Chola ke atas Kedah.

24.    Hikayat Pandawa Lima

'Hikayat Pandawa Lima merupakan sebuah manuskrip Melayu silam. Ia mengisahkan mengenai pengembaraan Pandawa lima bersaudara. Hikayat Pandawa iaitu berkenaan cerita keluarga Pandu dari kitab Hindu Mahabharata. Hikayat ini sungguh pun bercorak Hindu-Jawa, tetapi kandungannya banyak menggunakan perkataan-perkataan Arab.
Hikayat ini merupakan salah satu judul yang tercatat dalam daftar Wemdly yang ditulis pada T.M. 1736, menujukkan ia telah wujud sebelum tarikh tersebut lagi. Tarikh sebenar manuskrip ini diperdebatkan, tetapi tarikh yang dicadangkan antara tiga penyelidik adalah bahagian kedua abad keempat belas (Brakel), tidak lewat dari awal abad ke enam belas (Barginsky), abad ke enam belas (Khalid). Brackel dan Creese menegaskan tarikh yang lebih awal berdasarkan dapatan bahawa versi bahasa Melayu ini berasaskan tulisan kekawin Jawa Kuno dan bukannya versi Jawa lebih moden.
25.    Hikayat Raja Khandak
Hikayat Raja Khandak mengisahkan mengenai antara pahlawan-pahlawan Islam yang termasyur gagah berani pada zaman Rasulullah ialah Sayyidina 'Ali ibn Abu Talib, iaitu suami Fatimah, puteri Rasulullah. Kisah keberanian dan kegagahan Sayyidina 'Ali ada ter­kandung di dalam Hikayat Raja Khandak (ad a orang menye­but Hondok). Di-dalam hikayat ini meriwayatkan apabila 'Ali bertempek di medan perang suaranya seperti halilintar membelah bumi; pedangnya yang bernama Dzulfakar itu apabila di hunus memanjangkan diri hingga saujana mata memandang, demikian juga peri ketingkasan kudanya yang bernama Duldul itu sebagai terbang lakunya. Oleh ke­beranian dan kegagahan 'Ali hingga ia digelar dalam hikayat itu "'Ali Harimau Allah."
Menurut sejarah Islam 'Ali ialah orang yang mula-­mula menjadi pengikut Rasulullah selain dari Khadijah, isteri Rasul ullah. 'Ali sentiasa mengikut Rasulullah terutamanya dalam peperangan yang penting-penting; ia di­angkat menjadi khalifah Islam yang keempat tetapi tiada di-akui: oleh Mu'awiah ibn Abi Sufian serta pengikut-­pengikutnya yang terkenal dengan gelaran Bani Umaiyah, maka akhirnya peperangan telah berlaku di-antara kedua pihak itu.
Menurut ceritanya Ali telah mati ditikam oleh gem­bala kudanya yang diupah oleh Mu'awiah, ia-itu tatkala 'Ali hendak ka-masjid.
'A1i dengan isterinya, Fatimah, puteri Rasu1ullah, mempunyai dua orang putera Hasan dan Husain, tetapi dengan isterinya yang lain ia mempunyai seorang putera lagi bernama Muhammad 'A1i Hanafiah.

26.    Hikayat Raja-raja Pasai

Hikayat Raja-Raja Pasai atau juga Hikayat Raja Pasai menceritakan kisah raja-raja di negara Islam pertama di Asia Tenggara kini yang bernama Pasai. Hikayat Raja-Raja Pasai dianggap hasil kesusasteraan Melayu, mengisahkan masyarakat Melayu dan menggunakan bahasa Melayu (tulisan Jawi). Tidak dapat dipastikan tarikh awal hikayat ini ditulis kerana pada masa itu tradisi menceritakan semula cerita orang lain (seperti yang dilakukan pada cerita lisan) berlaku dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Perhatikan bahagian awal petikan Hikayat Raja Pasai yang berikut ini:
Alkisah peri mengatakan cerita raja yang pertama masuk agama Islam ini Pasai; maka adalah diceriterakan oleh orang yang empunya cerita ini, negeri yang di bawah angin ini, Pasailah yang pertama membawa iman akan Allah dan akan Rasulullah. Maka ada raja dua bersaudara seorang namanya Raja Ahmad dan seorang namanya Raja Muhammad. Adapun yang tua Raja Ahmad. Maka baginda kedua bersaudara itu hendak berbuat negeri di Samarlanga.
Artifak seperti makam Sultan Malik al Salih menunjukkan Pasai terletak di Kampung Geudong, Lhokseumawe, utara Aceh, pulau Sumatera, Indonesia. Teks ini ditulis dalam bahasa Melayu menggunakan tulisan tangan huruf jawi pada lembaran - lembaran berbentuk buku. Penyelidik menyatakan teks asal ditulis sekitar 1360 m kerana sezaman dengan buku tasauf Durru al Mazlum / Darul Mazlum karya Maulana Abu Ishak.

27.    Hikayat Shahrul Kamar

Hikayat Shahrul Kamar atau juga dikenali sebagai Hikayat Shah Kobad merupakan sebuah hikayat lama Melayu yang terpengaruh oleh corak kesusasteraan Hindu-Jawa. Ia telah diterbitkan semula dalam bentuk bercetak oleh DBP.
Hikayat Shahrul Kamar merupakan sebuah hikayat lama yang bercorak campuran Parsi Hindu ciptaan sebelum T.M. 1736, yang ada tercatit namanya di dalam daftar Werndly dengan nama Hikayat Shah Kobad. Aliran bentuk hikayat ini banyak mencontohi Hikayat Seri Rama.
28.    Kuda Perwira dan Kuda Peranca yang Gagah Perkasa
Meresmikan berdirinya suatu kerajaan baru tiadalah sukar. Dengan beberapa patah kata, dengan pengumuman ringkas, orang bisa lekas tahu. Janji bisa lekas dilupakan orang jika tanpa bukti, tanpa ujud yang dapat dirasakan adanya.
Membangun, memajukan dan mempertahankan kedaulatan Negara merupakan tugas yang maha berat bagi Panji Semirang. Hal itu disadari benar olehnya dan berkat dorongan kemauan yang kuat, segala sesuatunya berjalan baik juga.
Tampak dua orang penjaga pintu gerbang. Elok paras mukanya. Galak-galak sorot matanya. Langkahnya gagah seperti pahlawan yang tak kenal takut.
Itulah Ken Bayan dan Ken Sanggit, dayang-dayang yang berpakaian pria dan berganti nama pula. Yang seorang bernama Kuda Perwira dan yang seorang lagi dipanggilkan Kuda Peranca.
Tugas mereka berat. Mereka harus mencegah orang-orang yang lewat, baik yang datang dari arah Kuripan menuju Daha, maupun sebaliknya. Hanya orang-orang Gagelang dibolehkan terus berjalan tetapi yang lain harus dipaksa menghadap Panji Semirang. Kuda Peranca matanya beringas melihat serombongan pedagang yang hendak lalu. Ujung kumis palsu dipelintir, supaya kelihatan bertambah bengis. Tangan kiri memegang tombak. Tangan kanan bertolak pinggang. Berjalan gagah seperti juara silat. Pangkal tombak ditumbukkan ke tanah. Mulut membentak, "Berhenti!" Para pedagang kecil hatinya melihat tingkah laku Kuda Peranca, lalu berhenti berjalan.
"Kalian dari mana ? Mau ke mana ?"
"Kami dari Gegelang," jawab seorang kepala rombongan pedagang.
"Semua dari Gagelang ?"
"Betul! Kami hendak berdagang."
"Hem! Dari Gagelang !" Kuda Peranca berkata sendirian sambil menatap pedagang-pedagang itu seorang demi seorang. Tangan memelintir ujung kumis palsu.
"Kabarkan kepada orang-orang di negeri kalian tentang negeri kami. Raja kami ialah Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka. Raja gagah perkasa tapi adil."
Demikian perintah Kuda Peranca kepada pedagang-pedagang itu. Maksudnya agar supaya nama Panji Semirang dikenal orang di mana-mana.
"Baik Raden!" sahut para pedagang itu serentak.
''Kalian boleh lewat," kata Kuda Peranca.
Kemudian berjalanlah rombongan pedagang itu dengan hati lega, diikuti oleh pandangan mata Kuda Perwira dan Kuda Peranca.
Selang beberapa jam sesudah itu, tampak pula serombongan orang yang hendak lalu. Kuda Peranca dan Kuda Perwira bersiap-siap hendak menegur bersama-sama. Sebab orang-orang yang hendak lewat itu agak besar jumlahnya.
"Berhenti !" teriak Kuda Peranca dan Kuda Perwira dengan suara lantang.
"Kalian dari mana ? Mau ke mana ?"
"Kami dari negeri Mentawan. Kami hendak pergi ke negeri Kuripan, Raden," sahut kepala rombongan.
"O, dari negeri Mentawan? Apa maksud kalian ke Kuripan?" tegur Kuda Peranca.
"Macam-macam Raden. Ada yang hendak berdagang, ada yang hendak menjual tenaga atau ada juga yang hendak menyelenggarakan tontonan. Seperti lais, ronggeng, debus, sunglap, dan macam-macam lagi pertunjukan."
Jadi kalian semua dari negeri Mentawan ?" Kuda Perwira minta ketegasan sekali lagi.
"Betul, Raden."
Kuda Peranca dan Kuda Perwira saling memandang. Kemudian Kuda Perwira berkata, "Kalian dilarang meneruskan perjalanan ke Kuripan. Kalian mesti ikut kami menghadap Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka. Raja adil dan budiman. Di negeri kami, kalian boleh mencari nafkah hidup. Sumber penghidupan luas terbuka bagi siapa pun."
Kuda Perwira berhenti berbicara. Memandang muka para pedagang yang tampak tidak setuju dan agak kesal hatinya. Mereka merasa dibegal dan bakal menderita rugi. Berdagang di Kuripan sudah kelihatan untungnya, sebab sudah banyak langganan di sana. Sedangkan di negeri yang baru itu segala-galanya belum tentu.
"Kami tidak setuju, Raden ! Kami harus meneruskan perjalanan ke Kuripan. Langganan menunggu kedatangan kami di sana," sahut kepala rombongan pedagang. Dan serentak pula pedagang-pedagang itu bangkit hendak berjalan.
Kuda Peranca marah. Sambil menumbukkan pangkal tombaknya ke tanah ia membentak, "Siapa-siapa tidak mau menurut perintah, kami tangkap. Yang berani melawan dengan kekerasan kami bunuh ! Mengerti ?"
"Mengerti, Raden! Kami menurut saja kehendak Raden." Demikian sahut orang-orang dari rombongan kesenian. Maka timbullah perpecahan di antara orang-orang negeri Mentawan itu. Segolongan menurut dan segolongan yang lain membangkang.
Enam orang pedagang yang pemberani, serentak mencabut keris masing-masing. Terus menyerang Kuda Peranca dan Kuda Perwira. Timbullah pertikaian. Dua lawan enam! Dengan sigap kedua prajurit itu memainkan tombak masing-masing. Mempertahankan diri. Tangkai tombak dipegang sama tengah. Dengan cara demikian mereka bisa memukul penyerang dengan ujung dan pangkal tombak. Tak! Musuh kena pukul pangkal tombak. Musuh sempoyongan. Cos! Mata tombak ditusukkan ke perut musuh. Sur! Darah membersit membasahi tanah. Musuh jatuh — mengerang kesakitan — berdengus-dengus napasnya — akhirnya mati.
Dua penyerang sudah terang jadi mayat. Yang empat lagi luka-luka berat. Keenam-enamnya bergeletak di tanah tanpa daya. Orang-orang Mentawan itu menjadi takut semua kepada Kuda Perwira dan Kuda Peranca. Mereka menurut tanpa syarat segala perintah kedua prajurit itu. Kemudian terus digiring untuk menghadap Sri Baginda Panji Semirang.
Dengan kata-kata lemah-lembut, dengan sikap yang menarik, Baginda Raja menyampaikan sabdanya, "Dengan rasa persaudaraan, rakyat kami menyambut kedatangan kalian di negeri kami. Rakyat kami mengajak kalian bekerja bersama-sama; secara gotong royong membangun negeri kami sehingga menjadi bertambah makmur. Kehidupan kalian kami jamin."
Selanjutnya Sri Baginda memerintahkan rakyat untuk menghibur orang Mentawan dengan makan minum. Tiap keluarga harus menerima dua tiga orang tamu di rumah masing-masing. Kemudian secara gotong royong mendirikan perkampungan baru. Setelah itu mengadakan keramaian di alun-alun.
Orang-orang Mentawan senang hatinya mendengar sabda Sri Baginda sedemikian. Hilanglah takut mereka dan timbul rasa persaudaraan dengan rakyat Baginda Raja Panji Semirang. Lambat laun mereka merasa betah tinggal di negeri baru itu. Dengan sukarela orang-orang Mentawan menyatakan hendak menjadi rakyat Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka. Dengan demikian bertambah banyaklah rakyat Sri Baginda. Keadilan dan kemakmuran yang dijanjikan Sri Baginda menjadi kenyataan, oleh karena rakyat sendiri patuh dan giat bekerja, rajin usaha; masing-masing menurut kecakapannya sendiri-sendiri. Barangsiapa merasa belum cakap bekerja pasti mendapat bimbingan. Barangsiapa menghadapi kesulitan, pasti diberi pertolongan. Yang sakit, yang papa atau pun cacat dirawat baik-baik. Anak-anak muda dilatih membuat alat perkakas pertanian dan alat perang. Juga dilatih menjaga keamanan negeri. Barangsiapa memperlihatkan kecakapan dan kerajinan bekerja yang luar biasa, pasti dikaruniai hadiah oleh Sri Baginda.
Nama Baginda Panji Semirang semakin harum tersiar ke mana-mana. Semakin banyak rakvat berasal dari Daha, dari Kuripan, dan dari Mentawan pada pindah ke negara Panji Semirang. Banyak di antara orang-orang pendatang itu yang hidup makmur dan beroleh pangkat dalam kerajaan. Ada orang asal Daha menjabat pangkat menteri, ada orang asal Kuripan menjadi demang atau temenggung. Tidak sedikit pula orang-orang asal Mentawan yang menjabat pangkat bupati.
Sementara itu Raja Mentawan bersedih hati, oleh karena rakyat banyak yang pindah ke negeri Baginda Panji Semirang. Tidak hanya rakyat biasa, melainkan juga orang-orang berpangkat pada meninggalkan tempat, kemudian menjabat pangkat di negeri Panji Semirang.
Negeri Mcntawan semakin lemah, semakin mundur. Raja Mentawan cemas hatinya dan merasa takut kalau-kalau negerinya akhimya diserang dan dijajah Baginda Panji Semirang.
Menumt dugaannya Baginda Panji Semirang itu orangnya jahat, ganas. Badannya tinggi besar seperti raksasa. Gagah perkasa tanpa tanding.
"Jika negeriku diserang, rakyatku rusak binasa. Permaisuri dan kedua putriku pasti menjadi korban juga. Dijadikan seperti barang rampasan." Demikian pikir Raja Mentawan. Perasaannya rusuh. Pikirannya kelam kabut. Lebih-lebih mengingat kepada kedua putrinya, Puspa Juita dan Puspa Sari.
Pada suatu hari isi keraton Mentawan menjadi gempar. Beratus-ratus orang dari desa-desa pinggiran, berbondong-bondong menuju ibu kota. Sebab di perbatasan negeri, tampak pasukan tentara Baginda Panji Semirang. Orang-orang menduga negeri Mentawan akan diserang musuh yang sangat kuat.
Raja Mentawan segera mengutus Patih pergi ke perbatasan untuk menyelidiki benar tidaknya kabar yang disampaikan orang-orang pengungsi itu. Patih bersama-sama hulubalang dan beberapa prajurit segera berangkat ke perbatasan. Betul! Dari jauh sudah kelihatan betapa banyak lasykar musuh yang sedang berkemah di sana. Dengan hati berdebar-debar Patih terus mendapatkan hulubalang pasukan Panji Semirang dan minta izin hendak menghadap Sri Baginda. Permintaan Patih diperkenankan. Dengan dihantarkan Hulubalang Kuda Perwira dan Kuda Peranca, Patih menghadap Sri Baginda Panji Semirang.
Patih terkejut ketika melihat Sri Baginda yang sangat cantik itu. Sungguh di luar dugaan ! Sebab ia menduga akan berhadapan dengan seorang raja yang serba kasar tingkah lakunya; yang jahat dan bengis perangainya. Tetapi kiranya ia berhadapan dengan raja yang gagah perkasa tapi molek cantik. Sangatlah kagum Patih melihat kecantikan paras Sri Baginda Panji Semirang! Serasa menghadap sang Dewa Kamajaya dari keindraan.
"Paman Patih ! Harap Paman sampaikan sembah sujud kami ke hadapan Paduka Sri Baginda Mentawan. Jika Paduka Raja berkenan hati kami bermaksud hendak menghadap untuk mengeratkan silaturahmi kami dengan Paduka Raja. Kami menunggu balasan Paduka Raja, Paman." Demikian sabda Baginda Panji Semirang.
Bukan main-main lega hati Patih mendengar sabda Baginda Panji Semirang demikian. Dengan khidmat Paman Patih bersembah, "Hamba junjung setinggi-tingginya sabda Paduka. Hamba mohon diri."
Patih segera naik kuda. Terus kembali ke istana Mentawan. Kegemparan di istana mendadak menjadi reda. Kegelisahan hati segera hilang lenyap, setelah Patih mempersembahkan berita dari perbatasan itu. Dan segera pula Baginda Raja menitahkan Patih mengatur segala persiapan untuk menyambut kedatangan tamu agung Sri Baginda Panji Semirang. Permaisuri, Puspa Juita dan Puspa Sari berpeluk-pelukan, tertawa-tawa oleh karena hatinya terlalu girang. Girang oleh karena mereka tidak jadi diancam malapetaka, tetapi sebaliknya bakal mendapat kehormatan menerima kunjungan muhibah Sri Baginda Panji Semirang yang sudah masyhur namanya itu.
Tak lama kemudian kedengaranlah suara gamelan dan macam-macam bunyi-bunyian, pertanda tamu agung beserta pengiringnya sudah tiba. Dan kedengaran pulalah sorak sorai rakyat Mentawan yang menyambut tamu agung itu sepanjang jalan.
Rakyat Mentawan berdesak-desakan, berjejal-jejal, karena ingin jelas melihat Sri Baginda yang masyhur karena cantik dan gagah perkasanya itu; yang dikabarkan sebagai penjelmaan Dewa Kamajaya itu.
Raden Panji nan cantik jelita, naik kuda berwarna putih bersih. Menyambut rakyat Mentawan dengan senyum manis. Senyum mesra, tanpa dibuat-buat ke luar dari kalbu bersih sang Nata.
Banyak gadis lupa akan tunangan, karena hati terpikat Raden Panji. Mata memandang tanpa kedip, mulut ternganga lebar. Jantung berdebar-debar, kaki tak berasa capek mengikuti Sri Baginda yang naik kuda. Nenek-nenek lupa akan rambut sudah putih, bertingkah seperti gadis remaja. Hendak berlari menyongsong Baginda jelita, tapi kaki kaku tak mau diajak cepat-cepat melangkah. Tinggallah nenek berdiri sendirian, seperti orang-orangan di tengah sawah. Jika kakek tidak menyeret pulang, maulah nenek menunggu sampai Sri Baginda nanti kembali.
Jika nenek melihat cermin barulah ia sadar, bahwa masa muda sudah lama meninggalkan dia.
Permaisuri mentawan dan kedua putrinya berdiri tertegun. Matanya terbelalak seperti mata belalang melihat Sri Baginda Raja Panji Semirang masuk istana, terus menyembah dengan hormatnya di hadapan Sri Baginda Raja Mentawan. Istana sunyi senyap, orang-orang mulutnya bungkam, berdiri seperti patung-patung; seperti dikuasai tenung.
Tutur kata, gerak-gerik Sri Baginda Panji Semirang sangat menarik perhatian orang-orang Mentawan.
Selesai bersantap sambil beramah-tamah, Panji Semirang mohon diri. Lalu menitahkan bersiap-siap untuk meninggalkan negeri Mentawan. Kunjungan muhibah Sri Baginda Panji Semirang sesungguhnyalah meninggalkan kesan baik yang takkan mudah dilupakan oleh rakyat Mentawan.
Untuk menambah eratnya hubungan persaudaraan, Puspa Juita dan Puspa Sari diizinkan ayahanda Raja untuk turut serta dengan Sri Baginda Panji Semirang ke negerinya. Untuk melayani kedua putri itu, dua emban turut pula, yaitu Ken Pamonang dan Ken Pasirian.
Hari malam ketika Baginda Panji Semirang masuk istana. Mahadewi menyambut dengan senang gembira kedatangan Panji Semirang. Setelah bercakap-cakap sejenak dengan Mahadewi, Panji Semirang pergi bersiram dengan air kembang yang harum baunya. Pakaian prianya ditanggalkan, rambutnya diurai, lalu bersiram dan berlangir. Baginda Panji Semirang beralih rupa kembali menjadi Galuh Cendera Kirana.
Dalam bilik tertutup, di malam sunyi, Cendera Kirana menyepi seorang diri. Putri ayu hendak melepaskan pikiran dari segala kesibukan kerja sebagai raja — ingin kembali menjadi manusia biasa sepanjang malam — ingin menurutkan bisikan hati yang rindu kepada Raden Inu Kartapati di Kuripan. Sambil berbaring di atas tilam empuk yang beralaskan kain sutera indah, Cendera Kirana mencium boneka emasnya. Anak-anakan itu ditimang-timang, didendangkan nyanyian-nyanyian merdu, dipeluk, didekap, diajak berbicara. Semua isi hati dicurahkan Cendera Kirana kepada boneka kencana. Legalah hati Kirana. Kemudian hanya napasnya jugalah yang sayup-sayup sampai kedengaran dalam bilik itu. Putri ayu mengembara di alam mimpi.***
29.    Hikayat Bakhtiar
Cerita ini berasal dari sastra persi dan merupakan cerita berbingkai. Isi buku ini menceritakan seorang anak raja Azad Bakh. Raja itu Karen akalah perang , bersama permaisurinya melarikan diri . dalam sebuah hutan, permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki yang karena taka kuasa membawanya ditinggalkan dalam hutan itu. Seorang kepala penyamun menemukan anak-anak itu, kemudian dijadikan anak angkatnya. Setelah anak itu besar ketika ikut ayahnya menyamun ia ditangkap oleh raja. Melihat wajah anak itu raja tertatik kemudian dipeliharanya dan dijadikan pegawai istana. Anak itu oleh raja diberi nama Bahktiar.
Karena kecerdasan dan keberaniannya Bakhtiar selalu naik pangkat. Hal itu menyebabkan sepuluh orang pegawai istana yang lain menjadi iri hati. Bakhtiar difitnah berbuat jahat terhadap putrid raja, sehingga ia dijatuhi hukuman.
Pada suatu hari ketika Bakhtiar hendak dijatuhi hukuman mati, tiba-tiba datanglah kepala penyamun itu dan memberitahukan siapa sebenarnya Bakhtiar itu. Mendengar cerita kepala penyamun itu, barulah raja mengerti bahwa bahtiar adalah anaknya sendiri. Akhirnya bakhtiar diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya, sedangkan kesepuluh orang yang memfitnah tersebut dijatuhi hukuman.
30.    Hikayat Seribu Satu Malam
 (bahasa Arab: كتاب ألف ليلة وليلة Kitāb 'Alf Layla wa-Layla, bahasa Parsi: هزار و یک شب Hazâr-o Yak Šab) ialah sebuah karya kesusasteraan Timur Tengah Zaman Pertengahan yang mengandungi hikayat-hikayat yang diceritakan oleh Scheherazad (bahasa Parsi: Shahrastini) kepada suaminya. Suaminya pun tidak jadi hendak menghukum bunuhnya dan biar dia hidup untuk satu lagi hari.
Karya "Seribu Satu Malam" terdiri daripada koleksi hikayat yang dipercaya berasal daripada hikayat-hikayat Parsi, Arab dan India. Cerita-cerita teras mungkin berasal dari India dan disusun dalam sebuah karya Parsi yang bertajuk Hazar Afsanah ("Seribu Legenda"). Susunan Arab Alf Layla ("Seribu Malam") yang wujud pada kira-kira 850, mungkin merupakan terjemahan singkat untuk Hazar Afsanah. Sebilangan unsur-unsurnya boleh didapati dalam sajak Odyssey yang dikatakan ditulis oleh Homer, seorang pemuisi Yunani.
Dalam kesusteraan Melayu, hikayat ini yang diterjemahkan atau disadur dari salah satu naskah Arab pada abad ke-14 M, juga dikenali sebagai Hikayat Alfu lailah wa-iailah [1]yang dikelaskan sebagai cerita-cerita berbingkai.
Nama terkininya, Alf Layla wa-Layla (terjemahan harfiah: "Seribu Malam dan Satu Malam", iaitu "1001 Malam") mungkin muncul pada masa yang tidak diketahui pada Zaman Pertengahan, dan membayangkan gagasan nombor terhingga trans kerana 1000 mewakili infiniti konsepsi di kalangan ahli-ahli matematik Arab. Menurut legenda, sesiapa yang membaca seluruh koleksi ini akan menjadi gila. Ciri tersendirian Seribu Satu Malam telah direka pada beberapa abad, oleh banyak orang dan dalam karya berlainan, dan banyak telah menjadi termasyur dalam hak mereka tersendiri. Contoh-contoh terkenal termasuk Aladdin, Ali Baba dan Empat Puluh Penyamun, dan Tujuh Pengembaraan Sinbad seorang Pelayar.




Daftar Pustaka
Wirjosoedarmo, Soekono. 1990. Sastra Indonesia Klasik: Sastra Melayu Indonesia Untuk Sekolah Menengah. Surabaya: Sinar Wijaya.
Mustafa Mohd Isa. 1994. Kajian Teks Melayu Klasik Terpilih. JMK312. PJJ PPLK USM .
Fajar Bakti. 1987. Hikayat Raja-Raja Pasai. Kuala Lumpur.
dan diunduh pada tanggal 06 Pebruari 2011 dari beberapa alamat berikut ini:





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar